BERITA

( 2017-06-01 09:22:56 )
Jakarta 1/6, Kalimat itulah yang menjadi tema peringatan hari lahirnya Pancasila pada 1 Juni 2017 yang diselenggarakan di Kantor Pusat Kementerian Kesehatan, Jl. H.R. Rasuna Said, Jakarta hari ini. Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Inspektur Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Drs. Purwadi, Apt, MM. ME dan sekaligus sebagai petugas upacara pada hari ini adalah perwakilan dari Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan.

Berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 24 tahun 2016 tentang Hari Lahir Pancasila memutuskan bahwa pada tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai:

  1. Hari lahirnya pancasila;
  2. Merupakan hari libur nasional;
  3. Pemerintah bersama seluruh komponen bangsa dan masyarakat Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni.   

Untuk memperkuat pengamalan Pancasila maka pemerintah telah mengundangkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan ldeologi Pancasila. Bersama seluruh komponen bangsa, lembaga baru ini ditugaskan untuk memperkuat pengamalan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, yang terintegrasi dengan program-program pembangunan pengentasan kemiskinan, pemerataan kesejahteraan dan berbagai program lainnya, menjadi bagian  integral  dari  pengamalan  nilai-nilai  Pancasila.

Dalam sambutannya, inspektur upacara membacakan sambutan dari Presiden Republik Indonesia yang menekankan bahwa “perlunya belajar dari pengalaman buruk negara lain yang dihantui oleh radikalisme, konflik sosial, terorisme dan perang  saudara.  Dengan Pancasila dan UUD 1945 dalam bingkai NKRI dan Bhinneka Tunggal lka, kita bisa terhindar dari masalah tersebut. Kita bisa hidup rukun dan bergotong royong untuk memajukan negeri. Dengan Pancasila, lndonesia adalah harapan dan rujukan  masyarakat internasional  untuk membangun dunia yang damai, adil dan makmur di tengah kemajemukan”.

          

Selanjutnya, Presiden mengajak peran aktif  para ulama, ustadz, pendeta, pastor, bhiksu, pedanda, tokoh masyarakat, pendidik, pelaku seni dan budaya, pelaku media, jajaran birokrasi, TNI dan Polri serta seluruh komponen masyarakat untuk menjaga Pancasila. Pemahaman dan pengamalan Pancasila dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara harus terus ditingkatkan. Ceramah keagamaan, materi pendidikan, fokus pemberitaan dan perdebatan di media sosial harus menjadi bagian dalam pendalaman dan pengamalan nilai-nilai Pancasila.

“Tidak  ada  pilihan  lain  kecuali  kita  harus bahu membahu menggapai cita-cita bangsa sesuai dengan Pancasila. Tidak ada pilihan lain kecuali seluruh anak bangsa  harus menyatukan hati,  pikiran dan tenaga untuk persatuan dan persaudaraan. Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus kembali ke jati diri sebagai bangsa yang  santun,  berjiwa gotong royong dan toleran.  Tidak ada pilihan lain kecuali kita harus menjadikan lndonesia bangsa yang adil, makmur dan bermartabat di mata  internasional.

          

Namun  demikian, kita juga harus waspada terhadap segala bentuk pemahaman dan gerakan yang tidak sejalan dengan Pancasila. Pemerintah pasti bertindak tegas terhadap organisasi-organisasi dan gerakan-gerakan yang Anti Pancasila, Anti-UUD 1945, Anti-NKRl, Anti-Bhrnneka Tunggal Ika. Pemerintah pasti bertindak tegas jika masih terdapat paham dan gerakan komunisme yang jelas-jelas sudah dilarang di bumi lndonesia”.

Mengakhiri sambutannya Presiden mengajak untuk menjaga  perdamaian, menjaga persatuan, dan menjaga persaudaraan di antara kita semua. Mari saling bersikap santun, saling menghormati, saling toleran, dan saling membantu untuk kepentingan bangsa. Mari saling bahu-membahu, bergotong royong demi kemajuan lndonesia.

Selamat Hari Lahir Pancasila. Kita lndonesia, Kita Pancasila. Semua Anda lndonesia,  semua Anda Pancasila. Saya lndonesia, saya Pancasila.

Kontributor : AF dan AR



Arsip Berita